Kenapa Zaid Selalu Memukul Amr??? - almuawanah

Kenapa Zaid Selalu Memukul Amr???

Mengapa selalu Amr yang dipukul kenapa tidak zaid yang dipukul? ini menjadi sebuah pertanyaan bagi saantri yang baru belajar ilmu Nahwu.

ada misteri apa dibalik ini, berikut adalah cerita dibalik lafadz tersebut.

Misteri lafadz عمرو (Amrun)

Dahulu ada seorang gubernur dari mesir yang mencintai ilmu nahwu,

setiap ia belajar nahwu, ia selalu mendapati contoh ضرب زيد عمرا “Zaid Memukul Amr” tidak pernah ia menemukan contoh  sebaliknya “Amr Memukul Zaid”.

Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa dalam contoh-contoh kitab nahwu, Amr yang selalu dipukul?

Hal itu ia tanyakan kepada ahli nahwu yang ada di kotanya,

sang ahli menjawab “itu hanya contoh, tak masalah jika tuan ingin membalikan  posisi Amr pada Zaid.

Merasa tidak puas gubernur tersebut bertanya lagi “Kalau itu memang hanya contoh mengapa di kitab-kitab Nahwu selalu memposisikan Amr sebagai maf’ul yang dipukul?”.

Ahli Nahwu tersebut tidak menjawab,  karena gubernur mempunyai kekuasaan maka dipenjarakan lah ahli nahwu yang tidak mampu menjawab tersebut.

Gubernur mengundang seluruh ahli nahwu dan kiyai yang ada di kotanya untuk menjawab pertanyaan nya itu.

bagi siapa yang mampu menjawab maka keinginanya akan dipenuhi, dan bagi siapa yang tidak mampu menjawab, maka harus dipenjara.

Hampir semua ahli nahwu di kotanya dipenjara karena tidak mampu menjawab pertanyaan gubernur Mesir itu.

Akhirnya datang seorang Ulama dari baghdad menemui gubernur mesir dengan maksud menjawab pertanyaan yang jawaban nya sudah dinanti sejak lama.

Ulama dari Baghdad berkata “kenapa dicontoh yang disebutkan dalam kitab nahwu, Amr selalu menjadi objek dipukul? karena Amr telah mencuri huruf wau”

Sontak gubernur mesir itu kaget “mencuri huruf wau dari mana? tanya gubernur.

Dari lafadz ( داود ) asalnya داوود huruf wau nya ada dua, sekarang داود huruf wau nya satu, karena huruf wau kedua telah dicuri, tapi masih dibaca panjang.

Silahkan tuan lihat, ketika lafadz Amr tingkah Rofa atau Khofad/Jer, diakhir lafadznya terdapat huruf wau عمرو (Amrun). padahal  wau disitu tidak memiliki harkat. jelas ulama Baghdad.

Gubernur itu mengangguk-ngangguk paham. merasa puas dengan jawaban dari Ulama Baghdad tersebut.

Sesuai janji, gubernur tersebut menanyakan keinginan Ulama Baghdad untuk dipenuhi,

Ulama Baghdad tidak ingin apa-apa hanya ingin semua kiyai yang dipenjara dilepaskan, dan akhirnya gubernur pun memenuhi keinginanya.

Semua ulama dan kiyai ahli nahwu yang dipenjara akhirnya dibebaskan..

wallahu alamubissowab…

 

jilid 1 hal 307 ﺍﻟﻨﻈﺮﺍﺕ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻣﺼﻄﻔﻰ ﻟﻄﻔﻲ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﻟﻄﻔﻲ ﺍﻟﻤﻨﻔﻠﻮﻃﻲ ﺍﻟﻤﺘﻮﻓﻰ ١٣٤٣ ﻫﺠﺮﻳﺔ ﺑﻤصر

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: