Wudhu Bisa Menjadi Batal?? Ini 4 Hal Yang Membatalkan Wudhu

Wudhu sebagai sarana untuk mensucikan diri dari hadats kecil dapat menjadi batal apabila terjadi beberapa hal yang membatalkan wudhu.

Orang yang batal wudhunya pastinya dia tidak diperbolehkan melaksanakan shalat serta amalan ibadah lain yang menuntut kesucian dari hadats kecil apabila hendak melaksanakannya.

Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safinatun Naja sebagaimana sebagian ulama Syafi’iyah lainnya menyebutkan ada empat hal yang dapat membatalkan wudhu sehingga seseorang berada dalam keadaan berhadats.

(فصل ) نوا قض الوضوء أربعة أشياء : (الأول) الخارج من أحد السبيلين من قبل أو دبر ريح أو غيره إلا المنى ، (الثاني ) زوال العقل بنوم أو غيره إلا نوم قاعد ، ممكن مقعده من الأرض ، (الثالث) التقاء بشرتي رجل وامرأة كبيرين من غير حائل ، (الرابع ) مس قبل الآدمي أو حلقة دبره ببطن الراحة أو بطون الأصابع .
Nawaaqidul Wudhuui Arba’atu Asyyaa-a : Al-Awwalu Al-Khooriju Min Ihdassabilaini Minal Qubuli Wadduuri Riihun Aw Ghoyruhu Illal Maniyya , Ats-Tsaani Zawaalul ‘Aqli Binaumin Aw Ghoyrihi Illaa Nauma Qoo’idin Mumakkanin Maq’adahu Minal Ardhi , Ats-Tsaalitsu Iltiqoou Basyarotai Rojulin Wamroatin Kabiiroini Ajnabiyyaini Min Ghoyri Haailin , Ar-Roobi’u Massu Qubulil Aadamiyyi Aw Halqoti Duburihi Bibathnil Kaffi Aw Buthuunil Ashoobi’i .

1. Sesuatu yang keluar dari qubul (kelamin depat) dan dubur (kelamin belakang) baik berupa angin atau (berupa) benda lain selain mani (sperma)

2. Hilangnya akal sebab tidur atau lainnya, kecuali tidurnya orang yang duduk yang menetapkan pantatnya pada tanah (tempat duduk)

3. Bersentuhan antara kulit laki-laki dan wanita yang sudah sama-sama dewasa, dari selain orang yang halal (keduanya tidak ada urusan mahram dan ketika bersentuhan tidak ada penghalang)

4. Memegang (menyentuh) qubul anak adam dan lingkaran duburnya dengan telapak tangan atau jari-jari bagian dalam (tapak tangan/jari-jari)

Keempat hal pembatal wudhu tersebut berikut penjelasannya adalah:

1. Keluarnya sesuatu dari salah satu dua jalan (qubul dan dubur) selain sperma.

Berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 6:

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

Artinya: “Atau salah satu dari kalian telah datang dari kamar mandi”.

Tidak hanya sperma, apa pun yang keluar dari lubang depan( qubul) serta lubang belakang( dubur) baik berbentuk air kencing ataupun kotoran, benda yang suci maupun najis, kering ataupun basah, itu semua bisa membatalkan wudhu.

Sebaliknya apabila yang keluar merupakan mani hingga tidak membatalkan wudhu, cuma saja yang bersangkutan harus melaksanakan mandi jinabat.

2. Hilangnya akal karena tidur, gila, atau lainnya

فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ Artinya:

“Barangsiapa yang tidur maka berwudhulah.” (HR. Abu Dawud)

Orang yang tidur, gila, atau pingsan batal wudhunya karena ia telah kehilangan akalnya.  Hanya saja tidur dengan posisi duduk dengan menetapkan pantatnya pada tempat duduknya tidak membatalkan wudhu.

Posisi tidur yang tidak membatalkan wudhu tersebut bisa digambarkan; bila Anda tidur dengan posisi duduk dimana posisi pantat sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan Anda untuk kentut kecuali dengan mengubah posisi pantat tersebut, maka posisi tidur dengan duduk seperti itulah yang tidak membatalkan wudhu.

3. Bersentuhan kulit seorang laki-laki dan seorang perempuan

yang sama-sama telah tumbuh besar dan bukan mahramnya dengan tanpa penghalang.

Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 6:

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ

Artinya: “atau kalian menyentuh perempuan.”

Tidak batal wudhu seseorang laki- laki yang bersentuhan kulit dengan sesama laki- laki ataupun seseorang wanita dengan sesama wanita. Juga tidak membatalkan wudhu persentuhan kulit seseorang laki- laki dengan seseorang wanita yang jadi mahromnya.

Wudhu pula tidak jadi batal apabila seorang- laki- laki bersentuhan dengan seseorang wanita tetapi terdapat penghalang semacam kain sehingga kulit keduanya tidak bersentuhan secara langsung.

Juga tidak batal wudhunya apabila seseorang pria yang telah besar bersentuhan kulit dengan seseorang wanita yang masih kecil ataupun kebalikannya.

Ada pula dimensi seorang itu masih kecil ataupun telah besar tidak didetetapkan oleh usia tetapi bersumber pada telah terdapat ataupun tidaknya syahwat secara kerutinan untuk orang yang wajar.

4. Menyentuh kemaluan

atau lubang dubur manusia dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan atau bagian dalam jari jemari.

Rasulullah bersabda:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya: “Barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah.” (HR. Ahmad)

Wudhu menjadi batal dengan memegang kelamin ataupun lubang dubur manusia, baik yang disentuh masih hidup maupun telah mati, kepunyaan sendiri ataupun orang lain, anak kecil ataupun besar, menyentuhnya secara terencana ataupun tidak terencana, ataupun kelamin yang dijamah sudah terputus.

Hal ini hanya membatalkan wudhunya orang yang memegang serta tidak membatalkan wudhunya orang yang disentuh.

Tidak membatalkan wudhu apabila menyentuhnya dengan menggunakan selain bagian dalam telapak tangan serta bagian dalam jari- jari, menyentuhnya dengan penghalang misalnya kain, ataupun yang disentuh merupakan kelamin binatang. Wallahu a’ lam.

Tinggalkan komentar