Situasi Indonesia 1930 Kh. Rusjdi - almuawanah %

Situasi Indonesia 1930 Kh. Rusjdi

Kh. Rusjdi

Teguh Keimanan

Tahun 1930-an hampir setiap daerah di nusantara mengalami situasi yang kritis.  terutama dalam hal pangan dan sandang. tak terkecuali daerah Serang Banten. meski serba kekurangan masyarakatnya.

tetap dalam kekentalan pelaksanaan syariat islamiyah. kuku kekuasaan belanda tidak mampu mempengaruhi denyut pelaksanaan syariat islam. masyarakat sejak berpuluhtahun mencengkramnya.

Masyarakatnya tetap giat bersuluk bertoriqoh. dengan pengamalan zikir kepada Allah SWT. Dzikir dan bersuluk. telah menghujam hati keimanan mereka. bahkan telah mendarah-daging kegiatan itu berkat jasa ulama. dan perjuangan sebelumnya.

yang giat menanamkan kalimat “Ath-Thayyiba” yang cabang-cabangnya mencengkram tujuh lapis langit. akarnya membuhul tujuh lapis bumi. pondok pesantren adalah prisai segalanya. ulama dan santri adalah garda bangsa.

Pada tahun-tahun tersebut merupakan masa transisi kekuasaan. pemerintahan Hindia Belanda. dalam segi politik pemerintah Hindia Belanda telah mengendurkan kebijakanya. terutama dalam bidang politik dan keamanan.

pelonggaran itu terjadi karena. alasan pemerintah Hindia Belanda ingin menebar simpati. ke jantung hati masyarakat indonesia. hal lain tentara fasis jepang telah menguasai daerah Pasifik selatan. yang membuat nyali pemerintahan Hindia Belanda ciut dari kuku kekuasaan di daerah jajahannya di batavia.

yang kemudian bernama Jakarta. Pemerintahan Hindia Belanda mengizinkan orang jakarta untuk mengadakan kongres Pemuda 1928.

kongres pemuda

 

Kongres Sumpah Pemuda

Salah satu pencetus kongres sumpah pemuda itu adalah Ir. Soekarno. dalam acara yang gegap gempita oleh aliran darah muda itu. ia berpidato dan memprediksi. bahwa kemerdekaan bangsa indonesia telah berada diambang pintu.

argumentasinya adalah karena sekutu amerika telah mampu melumpuhkan tentara fasis. untuk jerman dan eropa dan fasis Jepang untuk Pasifik Selatan.

Di Jawa dan daerah lainya sudah mulai tampak pemerintah Hindia Belanda. tidak berjalan efektif. Fasis Jepang telah mendaratkan Bom di sumatra dan merapatkan kapal lautnya di daerah jawa.

Peristiwa ini lebih menghimpit beban derita rakyat Indonesia yang semakin sengsara. karena pangan semakin kritisterlebih fasis jepang. mulai menancapkan kuku jajahannya.

komoditad dan konsumsi disedot Jepang untuk menyetrum energi barisan pertahanan tentaranya. pada setiap di nusantara termasuk Kampung Setu Kecamatan Waringinkurung Kawedanan Serang terletak kurang lebih 15 KM dari kota Serang dan 4 KM dari cilegon.

meskipun kekurangan pangan untuk sekelilingnya. bagi keluarga santri dan Pondok Pesantren disikapi dengan hal yang biasa saja dalam keseharian kehidupan mereka sudah terlatih untuk itu mengamalkan zuhud dan waro dua sifat yang menumbuhka sifat Qona’ah (Selalu Merasa Cukup)  menghasilkan sebuah keberkahan.

yang menumbuhkan jiwa para santrid dan Kiyai tidak pernah liruh dengan keadaan. tetap istiqomah menegakan kalimatullah izzul islam wal muslimin.

Putra Kiyai Tegal Menes Kh. Rusjdi

Kampung Setu Earingin kurung dalam minggu-minggu di bulan mei 1930 an semakin semarak. selain keseharian diisi oleh 200-an santri. dengan kegiatan santri Bani Asy’ari tanggal 4 mei di rumah pengasuhnya Keluarga Kh. Rusjdi kian ramai saja dengan para tamu.

terutama seminggu ini para tamu keluar masuk berkunjung pada keluarga pengasuh pondok pesantren. banyak diantranya hanya untuk menjenguk dan mendoakan. Ibu Hj. Rughayah yang usia kehamilannya telah mencapai 9 Bulan.

Rumah kediaman keluarga Kh. Rusjdi menyatu dengan ruang Ta’lim dan bangunan kokoh masjid jami Al-Hasan yang artinya kuno. sedangkan senbelah selatan bangunan masjid terdapat bangunan madrasah Al–Khairiyah dan Kobong-kobong. (pondokan santri) pesantren bani Asy’ari yang mukim.

keramaian itu memuncak hingga tanggal 5 mei 1930. Senin hari tu cuaca di desa waringin kurung seperti biasa saat tiba menjelang shalat subuh berselimut kabut embun. Ibu Enong Rughayyah mulai gelisah menahan perutnya yang sakit.

Ia kerap berucap istighfar dan kalimat tasbih. sesekali ia merintih sambil menggeser posisi duduknya di ranjang. rasa itu jadi mencair oleh seorang nenek Hj. Wasi’ah Binti Sarim yang setia menemaninya selama kehamilan putrinya Hj. Enong Rughayyah.

Sang nenek kelahiran kota mekah itu membuat Hj. Enong Rughayyah tidak lagi cemas dengan rasa sakit perutnya.

Selain itu suara merdu dari suaminya Kh. Rusjdi seakan membesarkan nyalinya untuk tegar di wkatu pagi buta itu. suara Al-Qur’an yang dibacakannya dengan murattal itu merupakan. kebiasaan keseharian awal aktivitas kehidupan setelah shalat tahajud untuk menyongsong shalat subuh.

Kelahiran Putra Kiyai

Belum Lagi ia tuntas dengan bacaan Qur’an nya sayup-sayup telinga kanannya mendengar suara lantang tangis bayi yang lama ia menantikan itu. seakan membelah harapan baru hidupnya. Allah telah menganugrahi cikal bakal dzuriyyatnya kelak dan kini ia telah menjadi seorang ayah.

Tangisan bayi putra harapan itu mendorong Kh. Rusjdi menutup mushaf Al-Qur’an seraya dan masjid jami Al-Hasan terdengar suara adzan berkumandang. “Maha benar Allah dan maga benar para rasulnya selurunya.

kami benar benar bersyahadat untuk itu” Shodaqollahul adzim Washodaqo Rasulullahi ajmain wanahnu ala dzalika minasyyahidin walhamdulillahirobbil alamin.

Kh. Rusjdi beranjak dari posisi duduknya untuk segera menghampiri suara bayi ditengah suara azan itu. Ia mengangkat bayi yang masih merah.

untuk mengumandangkan adzan pada telinga kanan dan qomat pada telinga kiri bayi merah itu. seakan mengenalkan nama dzat Allah SWT. pada bayi yang baru mengenal kehidupan dunia.

Namun diluar sana dari bilik bambu rumahnya terdengar para santri sibuk membaca shalawat. untik menanti jama’ah berwudhu di masjid Al-Asan. Kali itu Kh. Rusjdi uzur menjadi imam shalat subuh. lebih terdorong untuk melihat istri dan putranya yang barusaja lahir ke dunia.

Hati kecilnya dipadati penuh rasa syukur saat ia diberitahu oleh “paraji” (penolong kelahiran) dan oleh neneknya yang setia menemani istrinya bahwa putranya adalah seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang nantinya diberi nama Achmad Ma’ani

Pemberian Nama

Yang memimpin walimah tasmiah itu sang kakek Ma’ani Kh. Asy’ari dan kakenya juga. yang memberikan kata sebutan “nama Ma’ani memang susah diucapkan oleh lidah orang kafir” bahkan memang sulit.

tapi insyaallah para malaikat sungguh mudah memanggilnya. untuk memberikan keberkahan hidup keberkahan ilmu didunia hingga akhirat. kelak dan acara walimah tasmiah itu dilanjutkan dengan doa agar cucunya kelak memiliki tak hanya ilmu tauhid.

tetapi pengamal tauhid yang kuat berjuang dengan tegar. bersandarkan tauhid didunia “apalah artinya gede ilmunya tapi kosong amalnya. jadilah imam yang mu’thi dan ma’mum yang tho’at bunyi do’anya.

Acara walimah tasmiah penamaan anak itu atau aqiqah hari itu terbilang cukup bikin heboh. karena Kh. Rusjdi cukup disegani masyarakat banten juga orang tuanya Kh. Asy’ari terbilang kiyai yang cukup secara memberi. maka wajar sekitar 40 ulama besar telah hadir

Setelah itu ratusan santri piluhan alim ulama mendapat sajian makan sepuasnya karena selain memotong hewan aqiqah Kh. Asy’ari memotong empat ekor kambing lainya dan hewan ayam.

bahkan dalam acara tersebut tersaji juga kelapa muda yang didalamnya telah ditaruh uang logam terdiri peser, sen, gobang. ketip dan talinan dan bungkusan “berkat” sedekah dari sohibul hajat.

Acara Upacara seperti itu dilanjutkan pada setiap anak-anak Kh. Rusjdi dan Hj. Enong Rughayyah yang melahirkan duz putra dan tiga putri yakni:

  1. Kh. Tb. Ahmad Ma’ani Rusjdi
  2. Kh. Muhammad Bisri
  3. Hj. Siti Raudloh
  4. Hj. Siti Hulayyah
  5. Hj. Siti Hulaelah
  6. Kh. Tb Ahmad Fuad

Lihat juga silsilah keturunan Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: