Mengenal Kitab Ta’lim Al-Muta’alim, Tuntunan Adab Mencari Ilmu

Mengenal Kitab Ta’lim Al-Muta’alim

Pndok Pesantren adalah sarana para pelajar khususnya santri untuk menimba ilmu pengetahuan secara intensif.

Hal ini terlihat dari padatnya jadwal pengajian serta banyak ragam kitab yang dipelajari. Namun, dalam tradisi pensantren, ada yang lebih penting dari ilmu pengetahuan, yaitu adab atau etika. Termasuk adab dalam mencari ilmu.

Bagi para santri, akhlak etika atau adab lebih tinggi derajatnya daripada ilmu. Setidaknya sopan santun lebih berharga daripada banyaknya ilmu. Hal ini serupa dengan yang ddisampaikan oleh Imam Ibnu al-Mubarak:

نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعلْمِ

“Kita lebih membutuhkan adab (walaupun) sedikit dibanding ilmu (walaupun) banyak” (Syekh Syatha Dimyathi al-Bakri, Kifâyah al-Atqiyâ wa Minhâj al-Ashfiyâ)

Dalam menggembleng akhlak para santri, pondok pesantren memasukkan pelajaran tentang adab dan tata cara menuntut ilmu ke dalam kurikulumnya.

Hal ini agar para santri memahami akhlak yang baik dan tata cara menuntut ilmu yang benar supaya tercapai yaitu mendapat ilmu yang manfaat dan barokah.

Selain mengenal kitab ta’lim ini ada banyak sekali beragam kitab yang ddigunakan dalam pembelajaran akhlak pada pondok pesantren, antara lain :

al-Akhlâq lil Banîn karya Syaikh Umar bin Ahmad Baraja, Adabul ‘Alim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Bidâyatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, dan yang sangat masyhur setiap pondok pesantren yaitu kitab Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum karya Imam al-Zarnuji.

Baca Juga Artikel Kami Tentang : 8 Kitab Dasar Yang Banyak Dikaji di Pesantren

Tentang Penyusun Kitab

Kitab Ta’limul Muta’alim merupakan salah satu kitab yang membahas tuntunan belajar. untuk mengenal kitab ta’lim ini kurang rasanya kalau belum mengenal siapa penyusunya,

Nama lengkap penyusunnya adalah Syekh Burhanyddin Al- Azarnuji al-Hanafi. Kata Al-Azarnuji dinisbatkan kepada salah satu kota terkenal dekat sungai Oxus, Turki.

Dari penisbatannya kepada al-Hanafi ujung namanya dapat kita ketahui bahwa beliau bermazhab Hanafi. Mengenai tahun kelahirannya para ulama tarikh masih berbeda pendapat, begitupun dengan tahun wafatnya.

Sebagian menyebutkan Imam al-Zarnûji wafat pada 591 H, namun ada juga yang menyebutkan wafat pada 640 H ( Syekh Al- Azarnuji, Ta’lim Al-Muta’alim Thariqu Ta’alum).

Imam Al-Zarnuji berguru kepada beberapa ulama besar pada masanya, antara lain adalah Ruknul Islam Muhammad bin Abi Bakr (573 H), Hammad bin Ibrahim,

Fakhruddin Al-Kasyani, Fakhruddin Qadhi Khan Al-Awz Jundi, dan Ruknuddin Al-Farghani. Para alim ulama tersebut adalah ahli fiqih sekaligus sastra.

Mungkin hal inilah yang menyebabkan banyaknya nasihat yang dikutip oleh Imam al-Zarnuji berasal dari ulama Hanafiyah, dan banyaknya syair dalam kitab ini.

Latar Belakang Peyusunan Kitab

Latar belakan penyusunan kitab ini Sebagaimana yang beliau tuliskan dalam kitab

وبعد…فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون [ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون] لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم، رجاء الدعاء لى من الراغبين فيه، المخلصين، بالفوز والخلاص فى يوم الدين، بعد ما استخرت الله تعالى فيه،

Kalau saya memperhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengalaman dari ilmu tersebut dan menyebarkannya.

Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan.

Oleh karena itu saya ingin menjelaskan kepada santri cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang saya baca dan menurut nasihat para guru saya yang ahli ilmu dan hikmah.

Dengan harapan semoga orang-orang yang tulus ikhlas mendo’akan saya sehingga saya mendapatkan keuntungan dan keselamatan di akherat. Begitu do’a saya dalam istikharah ketika akan menulis kitab ini.

Baca Juga Artikel Kami Tentang : Kitab Kuning dan Perannya di Dunia Pesantren

Fasal Dalam Kitab Ta’limul Muta’alim

Untuk lebih mengenal kitab ta’lim ini  Syekh Al-Zarnuji menjelaskan metode belajar dalam kitabnya ada 13 pasal yaitu :

1. Hakekat ilmu, hukum mencari ilmu, dan keutamaannya

Dalam pasal ini Imam al- Zarnuji membicarakan Mengenai kewajiban menuntut ilmu, serta tidak seluruh ilmu wajib dipelajari.

Sebab yang harus untuk mereka merupakan Ilmul perihal, semacam ilmu iman, ilmu shalat, zakat, serta semacamnya.

Sehabis itu beliau mengatakan keutamaan- keutamaan menuntut ilmu, di antara lain analogi Imam al- Zarnuji hendak keutamaan Nabi Adam AS dibandingkan para malaikat merupakan sebab ilmu yang dimilikinya.

Imam al- Zarnuji pula menarangkan kalau hukum menuntut ilmu terdapat 4.

Pertama, fardlu‘ ain, salah satunya merupakan ilmu wudhu serta shalat.

Kedua, fardlu kifayah, semacam ilmu metode menguburkan jenazah.

Ketiga, haram, semacam menekuni ilmu ramalan bersumber pada perbintangan.

Keempat, jawâz( boleh), semacam menekuni ilmu medis.

2. Niat dalam mencari ilmu

Imam Zarnuji mengatakan, kalau seseorang pelajar wajib mempunyai niat ketika menuntut ilmu. Sebagai landasan ialah sabda Nabi tentang niat,“ innamal a’ mâlu binniyyat”,

”Sesungguhnya amal seorang bergantung pada niatnya.” Terdapat sebagian niat yang diajarkan Imam al- Zarnuji kala menuntut ilmu.

Pertama, mencari ridha Allah SWT.

Kedua, menghilangkan kebodohan sendiri serta orang lain.

Ketiga, menghidupkan agama serta mendirikan Islam.

Keempat, mensyukuri nikmat ide serta kesehatan tubuh. Dalam pasal ini Imam al- Zarnuji pula berikan peringatan biar seseorang pelajar tidak mencari dengan iktikad mencari pengaruh biar orang- orang berpaling kepadanya.

Begitu juga mencari peran dari penguasa, kecuai bila ilmu tersebut untuk menyeru pada kebaikan serta mecegah kemungkaran pada pemereintah.

3. Cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan

Dalam pasal ini Imam al- Zarnuji berikan anjuran untuk para pelajar untuk memilah ilmu, guru, serta sahabat.

Sebaiknya untuk seseorang pelajar mendahulukan ilmu yang dibutuhkannya pada saat ini dalam urusan agama( ilmul hal), baru setelah itu menekuni ilmu yang bermanfaat menurutnya pada masa yang akan datang.

Serta Imam Zarnuji menganjurkan supaya mencari guru yang lebih pandai serta lebih sepuh darinya, serta memilah sahabat yang tekun, wara’, baik tabiatnya, serta paham.

4. Cara menghormati ilmu dan guru

Imam al-Zarnuji menjelaskan bahwa seorang pelajar (santri) tidak akan mendapat ilmu melainkan ia menghormati ilmu dan pemiliknya, yaitu gurunya.

Beliau menyebut adab apa saja yang harus seorang pelajar taati, antaralain ialah tidak duduk di tempat duduk gurunya, tidak memulai percakapan dengan guru kecuali atas izinnya, tidak banyak berbicara dsisi gurunya, dan lain-lain.

5. Kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur

Sungguh-sungguh, tekun, dan semangat Imam Al-Zarnuji memandang ilmu adalah sebagai tujuan yang agung, ia harus mencapai dengan kesungguhan, ketekunan dan semangat yang tinggi.

Kesungguhan tidak bergantung pada pelajar saja, namun guru dan orangtua pun harus bersungguh menyiapkan pendidikan anaknya.

Beliau banyak memberi saran agar ilmu itu kuat melekat pada seorang pelajar. Antaralain dengan mengulang pelajaran pada setiap permulaan dan akhir malam.

6. Ukuran dan urutannya

imam Al-Zarnuji banyak menyinggung soal urutan tingkat pelajaran yang mesti diajarkan guru kepada murid, dari dasar hingga kemudian kepada tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, Imam al-Zarnuji juga menyatakan bahwa merupakan suatu keharusan bagi pelajar untuk saling menggelar kegiatan seperti mudzakarah, munadharah, dan almutharahah.

Imam Al-Zarnuji mengingatkan kepada pelajar untuk senantiasa bersyukur atas karunia Allah SWT yang dianugerahkan kepada mereka berupa kemampuan untuk menuntut ilmu.

7. Tawakal

Tentunya setelah usaha-usaha, seorag pelajar harus berserah kepada Allah SWT. Imam Al-Zarnuji menyarankan para pelajar untuk tidak perlu merasa sulit dan menyibukkan hati dalam masalah rezeki.

Hal ini senada dengan hadis Nabi SAW, “Barangsiapa yang mencari ilmu, maka Allah SWT akan menjamin rezekinya.”

8. Waktu belajar ilmu

Masa Produktif mencari ilmu adalah seumur hidup, sejak dilahirkan hingga masuk ke liang lahat. Menurut Imam Al-Zarnuji, waktu terbaik untuk mencari ilmu ialah pada saat masih muda.
Jika seorang pelajar merasa jenuh terhadap satu disiplin ilmu, ia dapat beralih pada disiplin ilmu yang lain.

9. Saling mengasihi dan saling menasehati

Ilmu dan akhlak adalah dua hal yang tidak dapat ddipisahkan, Seorang pelajar hendaknya memiliki rasa kasih sayang, bersedia memberi nasihat dan tidak iri hati.

Seorang pelajar juga seharusnya menghindari permusuhan dengan orang lain, karena dapat menyia-nyiakan waktu. Beliau juga menyarankan agar mereka selalu berfikir positif, tidak berburuk sangka kepada orang lain.

10. Mencari tambahan ilmu pengetahuan

Imam Al-Zarnuji memakai metode praktis untuk menambah pengetahuan setiap hari. Antaralain ialah dengan mempersiapkan alat tulis setiap saat, tidak menyia-nyiakan waktu, bergaul dengan guru dan tamak kepada ilmu, fokus ketika saat pelajaran, dan taat kepada guru.

11. Bersikap wara’ ketika menuntut ilmu

Dalam pasal ini memberi kepada para pelajar untuk menjauhi rasa kenyang, banyak tidur, banyak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, menghindari makanan dari pasar bila memungkinkan, menggunjing, bergaul dengan orang yang jelek akhlaknya.

Dan hendaknya mereka bergaul bersama orang-orang sholeh, duduk menghadap kiblat, mengamalkan sunnah -sunnah Rasul,
dan memperbanyak sholawat.

12. Hal-hal yang dapat menguatkan hapalan dan yang melemahkannya

Menghafal termasuk ke dalam metode belajar dalam berbagai lembaga pendidikan. Imam Al-Zarnuji menyebutkan bahwa hal yang banyak membantu hafalan adalah kesungguhan, tekun, sedikit makan, dan shalat pada sepertiga malam hari, membaca Al-Qur’an.

Sedangkan hal-hal yang dapat menyebabkan lupa antaralain adalah banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, gelisah, khawatir, dan sibuk dengan urusan dunia.

13. Hal-hal yang mempermudah datangnya rijki, hal-hal yang dapat memperpanjang, dan mengurangi umur.

Dalam pasal ini Imam Al-Zarnuji mengingatkan bahwa seorang pelajar harus mengetahui apa saja yang menambah rezeki dan apa saja yang menambah panjang usia dan kesehatan.

Agar masa belajarnya dapat terselesaikan dengan baik Imam Al-Zarnuji mengatakan bahwa perbuatan dosa dan dusta dapat menjadi penghalang datangnya rezeki.

Selain itu, Beliau juga menyatakan bahwa tidur pada waktu Subuh termasuk penghalang rezeki, banyak tidur menyebabkan fakir, termasuk fakir dalam ilmu.

Sedangkan bangun pada waktu pagi dapat mendatangkan segala kemudahan dan dapat mendatangkan rezeki.

Karya Imam al- Zarnuji ini sudah banyak orang yang tahu baik di Timur ataupun di Barat. Banyak para ulama yang menyanjung kitab Ta’ lîm al- Muta’ allim, antaralain merupakan al-‘ Allamah al- Kinawi a- Hindi.

Beliau berkata,“ Saya sudah membaca kitab ini berulang- ulang, ia merupakan kitab yang ringkas, mempunyai banyak khasiat, berharga serta berfaedah.( Imam al- Zarnuji, Ta’ lîm al- Muta’ alim, Beirut: halaman40)

Ta’ lîm al- Muta’ allim sangat sesuai sekali dipelajari oleh santri, apalagi orang yang baru mengenal kitab ta’lim ini mengapa demikian, bahasa dalam kitab ini cukup rumit untuk pelajar pendatang baru, terlebih syair- syair di dalamnya.

Terkadang santri baru hendak memakai kitab Taysirul Kholaq ataupun al- Akhlak lil banin saat sebelum menekuni kitab ini.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: