Cerita Pertama Kali Masuk Pesantren

Cerita tentang pengalaman masuk pesantren, mungkin berbeda-beda satu sama lain

Pada kesempatan ini saya akan bercerita awal mula saya masuk pesantren dan menjadi santri baru di Ma’had Al-Mu’awanah Malnu Menes. dan ini menjadi sebuah kenangan yang takan terlupakan dan begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang belum pernah saya ketahui sebelumnya.

Menjadi Santri adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya, mengingat masa tersebut pahit nya mencari ilmu.

tetapi tetap saya rasakan dengan penuh semangat bersama teman-teman di Ma’had Al-Mu’awanah Malnu Pusat Menes yang penuh barokah.

Masuk ke dunia pesantren adalah suatu yang menakjubkan. Siapapun yang pernah merasakan menjadi santri pasti mengamini hal tersebut. Kehidupan pesantren berbeda jauh dengan kehidupan di rumah.

Banyak sekali kesan -kesan yang saya rasakan ketika tinggal di pesantren. manis pahitnya sudah saya rasakan ketika masa belajar di pesantren. jauh dari orangtua dan segalanya serba mandiri, yang biasanya serba enak dan saya mulai belajar mandiri.

Semua aktivitas dilakukan sendiri, mulai dari mencuci pakaian, nyetrika dan lain lain. bahkan ketika sakit pun saya harus berjuang, bertahan tidak manja, ya walaupun ada pengurus yang selalu perhatian kepada santri kamar nya.

Mendapat Hidayah Dari Allah Swt

Keinginan yang kuat ingin masuk pesantren baru saya rasakan ketika saya sudah lulus wisuda Mts. saya tidak habis fikir mengapa saya ingin masuk pesantren.

saya cuma punya gambaran ketika saya sekolah di Mts kebetulan yayasan itu sekaligus mengadakan program pesantren.

Nah yang sering saya lihat santri santri itu banyak hafalan, dituntut untuk bisa, jauh dari orang tua, makan yang seadanya, sering dihukum, dan masih banyak peraturan-peraturan yang menghantui fikiran saya.

Rasa itu seketika hilang ketika saya sudah menjadi seorang santri. dan menjadi santri tidak tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya.

Dan alhamdulillah Allah telah membuka pintu hati saya, allah telah memberi petunjuk, saya berfikir panjang untuk kedepannya.

saya ini mau bagaimana? saya ini mau jadi apa? dan bagaimana nanti kalau saya sudah dewasa berkluarga apakah ilmu saya cukup hanya dengan belajar di sekolah?

tentunya saya harus banyak belajar terutama ilmu agama yang saya harus dalami, dan tidak ada cara lain selain mengaji yanhg benar benar fokus yaitu di pesantren.

Gagal Masuk Sekolah Pilihan, Dan Masuk ke Pesantren

kelas

Ketika teman teman Mts membicarakan tentang akan kelanjutan nya pembelajaran ke jenjang selanjutnya saya berfikir dan berniat ingin masuk SMK bersama teman teman seperjuangan saya  yang masih satu yayasan tersebut dengan Mts.

Saya tidak berfikir ingin menjadi santri apalagi masuk pesantren, tidak sama sekali dan pada akhirnya saya memilih masuk pesantren.

Saya sempat bingung untuk memilih pesantren, karna orang tua saya tidak ada pengalaman mondok. dan ini menjadi pengalaman pertama keluarga saya dan khususnya saya yang menjalaninya.

Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya kepada guru ngaji saya Yang bernama Ust. AHmad Yani dan meminta saran untuk melanjutkan pendidikan yang lebih baik.

Dan beliau menyarankan saya untuk mendaftar masuk pesantren. di tempat dulu beliau pernah belajar dan menjadi santri, dan kebetulan juga ponakan beliau yang satu Mts dengan saya ingin masuk juga kesana.

Alhamdulillah saya tidak sendirian untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren yang sebelumnya saya tidak pernah berfikir untuk kesana.

Sebulan sebelum keberangkatan saya ke pondok orangtua saya menyiapkan segala pakaian dan lain lain dan saya juga bingung apa yang harus saya persiapkan untuk masuk pesantren.

Akhirnya saya dibimbing oleh Ust Ahmad Yani dan diajarkan sedikit sedikit tentang pelajaran disana supaya tidak kaget lagi karena ini yang pertamakalinya.

Seminggu seletah lebaran tepatnya kalau tidak salah 04/08/2014 saya berangkat ke pesantren dengan diantar dengan Ust. Ahmad Yani dan keluarga saya.

Perjalanan sekitar 5 jam akhirnya sampai ke pesantren. mendaftar di tempat PSB dan saya diajak sowan menemui Pengasuh Pondok dan PB Malnu.

Setelah itu saya membawa semua pakaian dan peralatan menuju asrama atau kobong ( Kamar Santri).

Setelah membereskan pakain dan peralatan dan ini momen yang paling menyedihkan harus berpisah dengan keluarga, demi ilmu demi cita cita yang mulia.

Dan tidak ada yang menyedihkan sebelumya yang pernah saya rasakan Ketika Orang tua bilang “Yang betah ya nak, Belajar yang rajin”

Dari saat itu lah dimulai perjuangan di pesantren, memulai pengalaman baru, pelajaran baru, dan teman baru. ketika itu teman sekamar saya kurang lebih 60 orang.

Kegitan Di Pesantren

Adapun kegiatan aktivitas selama di pesantren sebagai berikut :

04:30-05:15Bangun pagi persiapan shalat subuh berjama’ah
05:15-06:15Selesai shalat subuh dan lanjut pengajian subuh
06:15-07:00Mandi, sarapan Persiapan skolah
07:00-07:15Shalat Dhuha
07:15-13:00kegiatan sekolah
13:00-15:00ISOMA
15:00-17:00Shalat jama’ah ashar dan ngaji sore
15:30-17:00Mandi,makan persiapan shalat magrib
17:00-18:00jamaah magrib dan zikir
18:00-21:00Pengajian malam
21:00-23:00shalat isya jama’ah dan sorogan
23:00-04:30istirahat bobo cantik

Dan kegiatan lain ya yang ada di pesantren seperti Muhadoroh, Muzakaroh, Ziaroh membuat Bubur Syuro, peringatan Hari Santri Nasional, Ta’Ziran, gotong royong dan lain-lain masih banyak lagi pengalaman yang tak terlupakan bersama teman teman.

Masuk ke Ma’had Al-Mu’awanah membuat fikiran saya berubah. begitu indahnya taman syurga, tercium aroma aroma saantri salafi dengan sejuknya betapa indah nya menjadi santri.

Apalagi pimpinan Pengurus Besar Malnu Abah Kh. Hamdi Ma’ani adalah tokoh yang sangat terkenal di daerah Pandeglang Khususnya Menes.

Beliau juga sekaligus Ketua MUI Kabupaten Pandeglang. setelah saya tahu saya semakin merasa bangga mesantren di Ma’had Al-Mu’awanah Malnu.

Abah Kh. Hamdi Ma’ani selaku PB Malnu dan Pengasuh Ma’had Al-Mu’awanah Yakni Abah Kh. UUf Zaki Ghufron adalah ulama yang sangat disegani, lembut dalam menasehati.

saya beruntung masih bisa mengikuti Ceramah-ceramahnya beliau dan aktivitas kegiatan pengajiannya.

Terkadang saya juga merasa malnu kepada santri yang lebih mengerti yang lebih muda dari saya, karna sudah merasakan nikmatnya menjadi santri, mengapa tidak dari lulus SD saya menjadi santri.

Semoga ilmu yang saya pelajari, menjadi ilmu yang manfaat dan barokah serta mendapat keridhoan dari semua guru-guru

Semoga beliau selalu diberikan kesehatan, ditambah kemulianannya, dan selalu diberikan kesabaran dalam membimbing santri santrinya, aamin.

Tinggalkan komentar