Kitab Kuning dan Perannya di Dunia Pesantren

Kitab Kuning mungkin sudah tidak asing lagi bagi para santri dan kiyai yang pernah tolab ilmu di pesantren, terlebih di pesantren yang ada nilai kesalafanya.

Kitab tersebut sudah diajarkan dari sejak zaman dahulu oleh para pendiri islam yang keilmuanya sudah tidak diragukan lagi.

Kitab kuning sampai sekarang masih dipertahankan kurikulumnya dan pengajarannya khususnya di pesantren-pesantren salafi.

Pengertian Kitab Kuning

Kitab Kuning merupakan istilah untuk menyebut kitab- kitab klasik karya ulama- ulama terdahulu ataupun ulama salaf yang ialah salah satu elemen utama dalam pengajaran di pesantren NU.

Disebut kitab kuning karna kertas kitab- kitab klasik ini yang sampai di Nusantara dari Timur Tengah bercorak kekuning- kuningan.

Didalamnya berisi berbagai macam disiplin ilmu agama Islam, tercantum kitab yang berisi pendapat (syarah), pendapat atas pendapat (hasyiyah), terjemahan, serta saduran.

Kitab- kitab kuning ditulis dalam aksara Arab tanpa harokat sehingga kerap diucap pula dengan nama kitab gundul.

Terdapat juga Kitab- kitab yang ditulis oleh ulama asal Indonesia pada zaman sekarang ini , ialah pendapat, saduran, ataupun terjemahan yang ditulis dalam aksara Jawi( Arab Pegon).

Ciri-ciri Kitab Kuning

  • Kertasnya berwarna kuning kecoklatan.
  • Berisi tulisan arab, tidak berharokat dan bermakna.
  • Berbentuk persegi  dan tidak berjilid serta lembarannya tidak terikat satu sama lain.
  • Banyak dipakai dan dipelajari di pesantren

Pembagian Kitab Kuning

Kitab kuning terbagi pada empat bagian yaitu:

1. Kitab Matan (isi pokok)

kitab kuning
kitab kuning

Kitab Matan adalah kitab kuning pertama hasil karangan para ulama dari suatu disiplin ilmu tertentu, pada umumnya kitab ini berukuran tipis.

Ada banyak sekali kitab matan diantaranya Seperti kitab Taqrib, Matan Al Aurumiyah, Matan Safinatunnajah dsb.

Berikut contoh penjelasan pembahasan ilmu fiqih dalam kitab matan :

Matan : Air yang boleh untuk  menyucikan  ada  tujuh  air:  air langit,  air  laut,  air  sungai,  air  sumur, air sumber, air salju, dan air embun. (Taqrib)

2. Kitab Syarah (penjelasan rinci)

kitab kuning
kitab kuning

Kitab syarah adalah pengembangan dari kitab matan, yakni kitab syarah ini menjelaskan suatu permasalahn lebih detail dan terperinci, lengkap dengan contoh-contohnya.

Namun, tidak keluar dari pembahasan yang sudah ditetapkan oleh kitab pendahulunya yaitu kitab matan, serperti kitab Fathul Qarib kitab ini merupakan syarah dari kitab Taqrib.

Berikut contoh penjelasan pembahasan ilmu fiqih dalam kitab syarah :

Syarah : (Air yang boleh) artinya  sah  (untuk  menyucikan  ada tujuh:  air  langit)

artinya  yang  terjun dari langit, yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai)  artinya  yang tawar  (air  sumur,  air  sumber, air salju dan air embun)

dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan  Anda  “Apa  yang  turun dari  langit  dan  apa  yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann. (Fat’h al-Qarib)

3. Kitab Hasyiyah (ekplorasi lebih luas lagi)

kitab kuning
kitab kuning

Kitab hasyiyah adalah kitab yang merupakan pengembangan dari kitab syarah atau juga bisa merupakan pengembangan dari kitab matan .

Biasanya kitab hasyiyah ini isinya menjelaskan kedudukan bacaan sesuai dengan kaidah arab yang pembahasanya lebih luas lagi dari kitab syarah.

Contoh kitab Hasyiyah Bajuri, kitab hasyiyah bajuri ini merupakan kitab hasyiyah dar kitab Taqib dan syarah dari kitab Fathul Qarib.

Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan  itu  panjang  sekali, maka   demi  kepraktisan  kita  akan  mengutip  hasyiyah  yang menyangkut salah satu dari air  yang  tujuh  itu,  yaitu  “air sungai” saja)

Hasyiyah : (Perkataannya  dan  air  sungai)  rangkaian  dalam pengertian di, artinya air  yang  mengalir  di  sungai  (nahr) dengan  fa’thah  ha’  dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis,

Maka ia  mencakup  Nil  dan Furat  dan  sebagainya, dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu  disebutkan  dalam  nas  mengenainya  sebab   sesungguhnya diturunkan  dari  surga  Nil  Mesir

Dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan  dan  Jiham menurut  yang  unggul  berlainan  dengan  orang yang menyangka keduanya itu sinonim

Sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah  sungai  al-Mashishah  dan  Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha  dan  itulah  makna firman Dia Yang Maha Tinggi

“Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu” maka pada waktu keluarnya Ya’juj  dan Ma’juj  sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi  “Dan  sesungguhnya  Kami  tentulah  berkuasa untuk menghilangkannya. (al-Bajuri).

4. Kitab Majmuk

Kitab majmuk adalah kitab yang menjadi kumpulan dari beberapa penjelasan kitab sesuai dengan disiplin keilmuannya.

Contoh Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab Karya Imam An-Nawawi

Kitab ini menyajikan uraian perbandingan madzhab sebagaimana gaya penulisan Al-Umm karya Asy-Syafi’i. Al-Muhalla karya Ibnu Hazm. Al-Mughni karya Ibnu Qudamah. Al-Mabsuth karya As-Sarakhsi. Bidayatu Al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd. Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaili dan lain-lain.

Peran Kitab Kuning di Pesantren

Sebagai salah satu kajian kitab maupun pelajaran yang biasa serta telah jadi suatu kurikulum bernilai di suatu lembaga,

pembelajaran pondok pesantren maupun lembaga islam yang lain, hingga peran kehadiran daripada kitab- kitab kuning tersebut,

ataupun yang dikenal dengan kitab gundul tersebut sangatlah besar kedudukan serta kontribusinya.

Sebab dengan lewat pelajaran kitab kuning inilah daya ingat serta energi nalar seseorang santri maupun pelajar dalam menguasai dan menekuni.

begitu pula mengartikan tujuan dari pada kalam arab ataupu literasi bahasa arab itu dapat terbukti keahlian serta kualitasnya,

sekaligus dapat mempraktekan hasil daripada pengetahuan ilmu- ilmu perlengkapan.

Disamping itu pula seorang santri maupun pelajar yang dapat serta sanggup memahami pendalaman dari kajian- kaijan kitab kuning itu dapat membedah pemahaman- pemahaman,

yang sepanjang ini di anggap sanad butuh di klarifikasi serta di perjelas agas tidak menjurus kepada perihal penyesatan serta yang yang lain.

Perihal ini juga yang mengharuskan kepada seluruh pelajar / santri khususnya yang mengenyam ilmu di dunia pesantren untuk lebih mendalami pelajaran- pelajaran yang terdapat serta di perjelas dalam kitab- kitab kuning.

Karena dari kitab kuning inilah seluruh perkara agama dapat di ketahui secara luas dan terperinci serta tentu sesuai dengan fan- fan ilmu yang di kajinya.

wallahualam,,,

Baca Juga : 8 Kitab Dasar Yang Banyak Dikaji di Pesantren

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: