Kitab Al Ajurumiyah ( Kitab Dasar Gramatika Arab )

Kitab Al Ajurumiyah merupakan kitab dasar gramatika Arab ataupun kerap kita sebut dengan ilmu nahwu.

Kitab ini lumayan tipis namun isi serta faedahnya besar sekali. Penulisnya yaitu al- Imam ash- Shanhaji. Nama lengkapnya adalah Abu‘ Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud ash- Shanhâji.

Lahir di Fez, Maroko pada tahun 672 H serta meninggal pada 723 H. Konon, bagi Ibn al- Hâj, ash- Shanhâji lahir di tahun wafatnya Imam Ibnu Malik( Syekh ash- Shanhâji, Matn al- Ajurumiyah, Tahqîq: Hâyif an- Nabhân, Kuwait, 1431– 2010, hal. 13).

Santri Indonesia bakal mempelajari kitab ini dalam pendidikan ilmu nahwu dasar. Kenapa demikian? Karena, tidak hanya bahasa serta lapisan redaksinya yang gampang dimengerti,

kitab al- Ajurumiyah pula menyajikan dengan uraian yang tidak rumit, tidak terdapat perbandingan komentar, langsung kepada inti ulasan, ialah kaidah serta contoh. Matn Al- Ajurumiyah memulai dengan Bab Kalam serta mengakhiri dengan Bab Mahfudhât al- Asmâ`.

Pembahasan

Ada 24 bab pembahasan dalam kitab Al-Ajurumiyah antaralain

1. Bab Kalam (macam-macam kalam)

2. Bab Al-‘irab

3. Bab Mengenal tanda-tanda I’rab

4. Fashl

5. Bab Fi’il

6. Bab Isim-isim yang Dirofa’kan

7. Bab Fa’il

8. Bab Mubtada & Khobar

9. Bab Na’at (Sifat)

10. Bab ‘Athof

11. Bab Taukid

12. Bab Badal

13. Bab Isim-Isim yangDinashobkan

14. Bab Maf’ul Bih

15. Bab Masdar

16. Bab Dzharaf Zaman & Dzharaf Makan

17. Bab Hal

18. Bab Tamyiz

19. Bab Istisna

20. Bab Laa

21. Bab Munada

22. Bab Maf’ul Min Ajlih

23. Bab Maf’ul Ma’ah

24. Bab Mahfudhât al- Asmâ (Isim yangdikhafadkan)

Berikut salah satu contoh materi yang ada dalam Kitab Al Ajurumiyah

بَابُ اَلْفَاعِلِِ

اَلْفَاعِلُ هُوَ الاسم اَلْمَرْفُوعُ اَلْمَذْكُورُ قَبْلَهُ فِعْلُهُ. وَهُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ ظَاهِرٍ, وَمُضْمَرٍ.

فَالظَّاهِرُ نَحْوَ قَوْلِكَ قَامَ زَيْدٌ, وَيَقُومُ زَيْدٌ, وَقَامَ الزَّيْدَانِ, وَيَقُومُ الزَّيْدَانِ, وَقَامَ الزَّيْدُونَ, وَيَقُومُ الزَّيْدُونَ, وَقَامَ اَلرِّجَالُ, وَيَقُومُ اَلرِّجَالُ, وَقَامَتْ هِنْدٌ, وَقَامَتْ اَلْهِنْدُ, وَقَامَتْ الْهِنْدَانِ, وَتَقُومُ الْهِنْدَانِ, وَقَامَتْ الْهِنْدَاتُ, وَتَقُومُ الْهِنْدَاتُ, وَقَامَتْ اَلْهُنُودُ, وَتَقُومُ اَلْهُنُودُ, وَقَامَ أَخُوكَ, وَيَقُومُ أَخُوكَ, وَقَامَ غُلَامِي, وَيَقُومُ غُلَامِي, وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

وَالْمُضْمَرُ اِثْنَا عَشَرَ, نَحْوَ قَوْلِكَ “ضَرَبْتُ, وَضَرَبْنَا, وَضَرَبْتَ, وَضَرَبْتِ, وَضَرَبْتُمَا, وَضَرَبْتُمْ, وَضَرَبْتُنَّ, وَضَرَبَ, وَضَرَبَتْ, وَضَرَبَا, وَضَرَبُوا, وضربن”.

Bab Fa’il
Faa’il adalah isim yangdirafa’kan yang disebut sebelum faa’il itu fi’ilnya. Dan faa’il itu ada dua bagian, yaitu faa’il isim dzhahir dan faa’il isim dhamir.

Maka faa’il isim dzhahir itu seperti contoh

قَامَ زَيْدٌ, وَيَقُومُ زَيْدٌ, وَقَامَ الزَّيْدَانِ, وَيَقُومُ الزَّيْدَانِ, وَقَامَ الزَّيْدُونَ, وَيَقُومُ الزَّيْدُونَ, وَقَامَ اَلرِّجَالُ, وَيَقُومُ اَلرِّجَالُ, وَقَامَتْ هِنْدٌ, وَقَامَتْ اَلْهِنْدُ, وَقَامَتْ الْهِنْدَانِ, وَتَقُومُ الْهِنْدَانِ, وَقَامَتْ الْهِنْدَاتُ, وَتَقُومُ الْهِنْدَاتُ, وَقَامَتْ اَلْهُنُودُ, وَتَقُومُ اَلْهُنُودُ, وَقَامَ أَخُوكَ, وَيَقُومُ أَخُوكَ, وَقَامَ غُلَامِي, وَيَقُومُ غُلَامِي,

Dan Faa’il isim dhamir itu ada 12, yaitu

ضَرَبْتُ, وَضَرَبْنَا, وَضَرَبْتَ, وَضَرَبْتِ, وَضَرَبْتُمَا, وَضَرَبْتُمْ, وَضَرَبْتُنَّ, وَضَرَبَ, وَضَرَبَتْ, وَضَرَبَا, وَضَرَبُوا, وضربن

Bab Maf’ul yang tidakdisebut Faa’ilnya (Naaibul faa’il)

Naaibul faa’il adalah isim yang dirafa’kan yang tidak disebut bersamanya faa’ilnya. jika fi’ilnya itu fi’il madhi maka didhammahkan huruf awalnya dan dikasrahkan apa yang sebelum akhirnya dan jika fi’ilnya itu fi’il mudhari’ maka didhammahkan huruf awalnya dan difathahkan huruf yang sebelum akhirnya.

Naa’ibul faa’il itu ada dua, yaitu Naaibul faa’il isim dzhahir dan naaibul faa’il isim dhamir.

Naaibul faa’il isim dzhahir itu contohnya

ضُرِبَ زَيْدٌ” وَ”يُضْرَبُ زَيْدٌ” وَ”أُكْرِمَ عَمْرٌو” وَ”يُكْرَمُ عَمْرٌو

dan naaibul faa’il isim dhamir contohnya

ضُرِبْتُ وَضُرِبْنَا, وَضُرِبْتَ, وَضُرِبْتِ, وَضُرِبْتُمَا, وَضُرِبْتُمْ, وَضُرِبْتُنَّ, وَضُرِبَ, وَضُرِبَتْ, وَضُرِبَا, وَضُرِبُوا, وضُربن

Penamaan Kitab Al Ajurumiyah

Tidak diketahui secara perinci apakah Syekh ash- Shonhaji berikan judul kitab ini ataupun tidak. Tetapi, telah masyhur kita menyebutnya dengan menisbatkan matan ini kepada beliau, ialah Matn al- Ajurûmi ataupun Matn al- Jurûmiyah.

Mengenai penamaan kitab ini, Hâyif an- Nabhân, pemilik suatu majalah yang bernama al- Muqtathaf, menyebut dalam kitab Jurumiyah yang ia tahqiq( sunting),

kalau nama kitab al- Ajurûmi ini merupakan serapan dari bahasa Inggris, ialah grammar( tata bahasa).

Imam As- Suyûthi mengatakan kalau kitab ini memakai metode Kûfiyyîn( mazhab Kufah). Ciri- cirinya: ia memakai lafadz khafadh, bukan jarr. Setelah itu, Bagi ar- Râ’ i, Syekh ash- Shanhaji menuliskan kitab ini di hadapan Ka’ bah. ( Jalaluddin as- Suyûthi, Bugya al- Wi’âh fî Thabaqât al- Lughawiyîn wa an- Nuhâh, tahqîq: Muhammad Abu al- Fadl Ibrahim, Lebanon: al- Maktabah al-‘ Asriyyah, juz. 1, hal. 238).

Yang disebutkan as- Suyûthi di atas senada dengan penuturan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab Mukhtashâr Jiddan yang ialah syarah atas kitab al- Ajurumiyah.

“ Syekh ash- Shanhaji menulis kitab ini di hadapan Ka’ bah, setelah itu dia lemparkan kitab ini ke lautan, jikalau kitab ini terbuat atas dasar keikhlasan serta mengharap ridha Allah subhanahu wata’ ala hingga ia tidak akan basah.

Serta yang terjadi memanglah demikian, serta para santri sampai saat ini bisa menikmati isi kitab al- Ajurumiyah( Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mukhtasar Jiddan, hal. 27).

Kitab tipis ini tidak luput dari pujian para ulama. Ibnu Ya’ lâ mengatakan, kitab ini merupakan suatu mukaddimah yang diberkahi dari karangan ilmu nahwu, ia memliki target yang dekat, gampang dihafal serta dimengerti, dan tentu saja mempunyai banyak khasiat untuk para pendatang baru.

Ash- Shanhâji mengarangnya dengan ditulis oleh anaknya, Abi Muhammad, setelah itu ia juga mengambil banyak khasiat dari kitab itu, begitu pula dengan seluruh orang yang membacanya.

Kekurangan dan kelebihan Kitab Al Ajurumiyah

Pastinya seluruh kitab dalam cabang ilmu apa juga mempunyai kelebihan serta kekurangan. Kelebihan serta sanjungan para ulama menimpa kitab ini banyak sekali,

Tetapi, sejauh yang kami rasakan, kekurangan kitab ini yakni sangat ringkasnya ulasan serta sedikitnya alterasi contoh, yang menyebabkan para pelajar terpaku pada contoh itu- itu saja.

Hal ini bisa memaklumkan sebab kitab ini yakni tipe kitab matan yang memanglah cocok kepada para pemula.

Tata Cara Penulisan

Tata cara Syekh ash- Shanhaji dalam menulis kitab ini bisa menyimpulkanya dengan sebagian poin ringkas.

Pertama, ia mengawali tiap bab umumnya dengan menuliskan definisinya.

Kedua, melaksanakan pengklasifikasian dalam bab- babnya, setelah itu mengatakan jenis- jenisnya.

Ketiga, menyebutkan contoh- contoh pada tiap bagian- bagian yang ia sebutkan.

Keempat, mengatakan komentar yang kokoh baginya tanpa terikat dengan salah satu mazhab dalam ilmu nahwu, serta tanpa menukil langsung dari sesuatu kitab maupun imam tertentu.

Kelima, tidak mengatakan sama sekali mukaddimah serta tujuan kitab ini.

Keenam, tidak mengatakan sama sekali dalil- dalil berbentuk syair ataupun penjelasan secara gramatikal bahasa Arab.

Ketujuh, menarangkan ulasan dengan ringkas.

Kedelapan, tidak mencantumkan bab- bab tertentu, dengan iktikad meringkas isi kitab.

Syarah Kitab AL Ajurumiyah

Banyak para ulama yang meningkatkan kitab ini dengan berikan uraian( syarah), ataupun meng- i’ rab- nya, ataupun menjadikannya syair.

Jumlah syarah kitab al- Ajurumiyah menggapai lebih dari seratus. sebagian kitab syarahnya yakni Mukhtashar Jiddan karya Sayyid Amad Zaini Dahlan, ad- Durrah an- Nahwiyah fî Syarh al- Ajurûmiyah karya Abu Ya’ la, ad- Durrah al- Bahiyah‘ ala Muqaddimah al- Ajurûmiyah karya Muhammad bin‘ Umar bin‘ Abdul Qâdir, al-‘ Asymâwi‘ ala Matn al- Ajurûmiyah karya al-‘ Asymâwi.

Tapi Ada pula pembahasan dalam wujud i’ rab( menampilkan peran per kata dalam tata bahasa pada sesuatu kalimat, red), antara lain merupakan I’ râb al- Ajurûmiyah karya Khalid bin Abdullah al- Azhari serta al- Fawâid as- Saniyah fî I’ râb Amtsilah al- Ajurumiyah karya Najmuddin bin Muhammad bin Yahya al- Halabi.

Dalam wujud syair ataupun nadham, kitab al- Ajurûmiyah ini pula melahirkan karya lain merupakan Nadhm al-‘ Imrîthî karya Syekh al-‘ Imrîthî serta ad- Durrah al- Burhâniyah fî Nadhm al- Ajurûmiyah karya Burhanuddin Ibrahim al- Kurdi.

Sampai saat ini, belum terdapat yang bisa menggeser posisi berarti Matn al- Ajurûmiyah pada golongan pelajar pendatang baru dalam menekuni gramatika Arab.

Pastinya ini ialah sesuatu keberkahan dari penulis, serta doa- doa para ulama, dan segala orang yang mempelajarinya.

Wallahu a’ lam.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: