KH. Tb. A. Ma'ani Rusjdi Membebaskan Abuya Dimyati dari Penjara -

KH. Tb. A. Ma’ani Rusjdi Membebaskan Abuya Dimyati dari Penjara

Abuya Dimyati. Siapa yang tidak mengenal???. Ulama karismatik dari kabupaten pandeglang. ternyata ada suatu kisah yang menjadi sejarah bersama Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi

Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi- Adalah putra dari Kh. Tb. Rusydi yang bersama sama mendirikan lembaga pendidikan bersama Kh. Mas Abdurrahman Bin Jamal Yang sangat populer di Menes Pandeglang Banten. dan beliau-beliau juga lah yang menjadi tokoh mukhtamar NU ke 13 yang diadakan di Menes.

Acara Di Istana Cipanas

Pada tahun 1960-an rombongan ulama dan umara diantaranya Letkol H. Ayip Rughby selaku mantan Menteri Kehutanan. dan Prof. KH. Sazeli Hasan selaku Wakil Ketua MUI Banten.

bertolak dari Banten menuju Istana Presiden di Puncak Cipanas dalam rangka menghadiri wisuda Bung Karno meraih gelar Doktor bidang Ilmu Aqidah Islamiyyah.

Bersamaan dengan itu KH. Tb. A. Ma’ani Rusjdi yang pada saat itu masih muda, Sampai disana telah berkumpul para tokoh-tokoh nasional seperti Prof. DR. Hamka, ulama Sepuh KH. Tb Falak Pagentongan, KH. A. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syamsuri dan beberapa tokoh islam dari PERSIS Wasliah.

Ketika acara hendak dimulai Bung Karno memerintahkan lewat KH. Saifuddin Zuhri selaku Menteri Agama, bahwa yang harus membaca Qur’an harus bergelar “Tubagus” orang Banten. Terpilihlah pada waktu itu KH. Tb. Mansur Ma’mun sebagai Qari.

Sedangkan untuk orasi ilmiahnya Bung Karno menginginkan tokoh muda, maka terpilihlah KH. Ma’ani. Karena pada waktu itu ia terbilang tokoh paling muda yang turut hadir.

Orasi Ilmiah

Sebagai tokoh agama yang paling muda pada saat itu, KH. Ma’ani diminta untuk orasi ilmiah secara mendadak oleh Bung Karno rasanya sangat mustahil bahkan tanpa persiapaan apapun. Meski demikian KH. Tb. A. Ma’ani Rusjdi sebagai orang Banten.

tentunya tidak ingin membuat kecewa para sesepuh ulama dari Banten yang hadir pada saat itu. Sehingga pada saat sebelum orasi ilmiah dimulai. KH. Ma’ani bertawasul kepada Kakek dan Ayahandanya dan berdoa “Ya, Allah jika pidato saya di istana ini hasilnya tidak memuaskan maka jeleklah orang Banten keseluruhannya.

Jika baik Insya Allah Banten gudangnya ulama meningkat derajatnya” ternyata doanya dikabulkan oleh Allah. sampai-sampai ia orasi ilmiah 2 jam lamanya menyuarakan dinamika ilmu pengetahuan dan permasalahan umat islam.

Setelah selesai orasi Ilmiah KH. Ma’ani disambut tepuk tangan hadirin dan dijemput Bung Karno untuk duduk bersamanya.

Karomah Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi

Selain kisah menarik diatas terdapat kisah lainnya dimana karomah KH. Ma’ani dalam urusan diplomasi tidak diragukan lagi kecakapannya. Sebagaimana diriwayatkan langsung dari buku 75 tahun Pengabdian Kh.Tb. A. Ma’ani Rusjdi.

bahwa ketika Abuya Dimyati dijemput polisi dari rumahnya. untuk menjalani persidangan atas tuduhannya karena kritiknya terhadap pemerintah yang cenderung sekuler dalam menjalani kehidupan di dunia. Keesokan harinya yaitu hari Sabtu. turun putusan bahwa Abuya Dimyati divonis penjara delapan bulan.

Keputusan tersebut tentunya hanya bisa diterima dengan lapang dada. baik oleh Santri-santrinya maupun anak-anaknya seperti KH. Bahren, dan Tb. Anis sekalipun ia seorang politisi.

Lima hari setelah penangkapan Abuya Dimyati. tepatnya pada hari Kamis ketika KH. Ma’ani sedang berbuka puasa. datang seorang tamu dari Pandeglang ke rumahnya di Kananga, Menes. Rupanya tamu tersebut adalah Muhtadi yaitu anak sulung dari Abuya Dimyati.

Dengan rasa takzim dan penuh hormat. ia memohon bantuan agar mengusahakan supaya Abuya Dimyati bisa dikeluarkan dari penjara. Atas ijin Allah KH. Ma’ani menyanggupinya. sehingga keesokan harinya ia berangkat menuju Pandeglang dan bertemu dengan Bapak Ruslan selaku Kepala Penjaranya dan juga Abuya Dimyati.

Dalam pertemuan tersebut ia berbicara kepada Abuya Dimyati. bahwa untuk bisa membebaskannya harus ada surat memo pejabat dari Jakarta. Karena menurutnya kepala penjara tidak punya wewenang untuk membebaskannya.
Seminggu setelah kunjungan pertamanya dengan Abuya Dimyati.

anak sulungnya Abuya Dimyati datang lagi ke rumahnya hendak menanyakan perkembangan dari situasi yang terjadi. Kepada Muhtadi, ia menjelaskan kondisinya dan mohon mintakan doa kepada Abuya Dimyati bahwa ia hendak ke Jakarta “bedoa’lah dik, Insya Allah Kakan akan perjuangkan.

mudah-mudahan seminggu setelah Kakak dari Jakarta Abuya Bebas”. Keesokan harinya KH. Ma’ani berangkat ke Jakarta hendak meminta memo dari pejabat di Jakarta untuk membebaskan Abuya Dimyati yang masih dalam penjara. Atas ijin Allah dan barokah doa dari kedua ulama tersebut, seminggu setelah KH. Ma’ani kembali dari Jakarta, Abuya Dimyati dibebaskan.

Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi Sebagai Penerus Perjuangan

Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi sosok kyai kharismatik. Sosok ulama besar yang telah memberikan pemekiran dan sumbangsih nyata sampai hari ini terhadap dunia pendidikan di Indonesia.

Perguruan Islam Mathla’ul Anwar Linahdlatil ‘Ulama ( MALNU ) Pusat Menes – Pandeglang – Banten / Malnu Pusat Menes. yang dimulai dari Pondok Pesantren. Hari ini Ponpes Malnu bukan hanya ditingkatan pesantren saja.

tetapi malnu pusat menes kini sangat lengkap dalam dunia pendidikan. mulai tingkatan  PAUD, TK, SD, SMA/MA dan Perguruan Tinggi.

Perguruan Islam MALNU  Pusat Menes – Pandeglang – Banten. merupakan hasil pemikiran sosok ulama besar yang ada di kota menes ini yaitu Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi .

 

Silsilah Keturunan Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi

Mengulas tentang silsilah pendiri MALNU Pusat Menes, Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi  adalah masih keturunan Rosolullah SAW dari garis Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Mari kita simak bersama garis silsilah Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi  :

SILSILAH KETURUAN

1.Sayyida na Fatimah
2.Sayyidina Husein
3.Sayyidina Zainal Abidin
4.Sayyidina Ja’far As-sdiqi
5.Sayyidina Qosim Al-kamil
6.Sayyidina Idris
7.Sayyidina Al-baqir
8.Sayyidina M. Muhajir
9.Sayyidina Ubaidillah
10.Sayyidina Muhammad
11.Sayyidina Ali Gayam
12.Sayyidina Alawi Al-misri
13.Sayyidina Abdul Malik
14.Sayyidina Jalaluddin
15.Sayyidina Jamaluddin
16.Sayyidina Ali Nur’alim
17.Sayyidina Syarif Abdullah
18.Syarif HidayatullahSyarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati )
 Nyai Tedasari (istri) asal Majapahit
1. Sunan Pasarean
2. Adipa  Pakungja
3. Panembahan Ratu
4. Panembahan Girilaya
5.Panembahan Pa  Suda
6. Sunan Agung Mataram
7. Sarpan Bumi Agung
8. Tumenggung Adiningrat
9. Wiridadaha
10. W. RA. Daha
11. Indra Manggala
12. Arya Rahan
13.Syekh Sohib Jasinga
14.Syekh Daud Labuan
15.Syakh Ajib Kananga
16.Syekh Mahdi
17.Syekh Afifuddin
18.KH. M. Sahal
Nyai Kaungten (istri asal Banten)
1.Sultan Maulana Hasanuddin
2.Maulana Yusuf
3.Maulana Muhammad
4.Abdul Mufakkir
5.Abul Ma’ali
6.Sultan Ageng Tirtayasa
7.Abdul Nasar
8.Abdul Qohar
9.Arya Abdul Halim
10.Tb. Bai
11.Tb. Kafi
12.Ratu KunahKH. M. Sahal Bin Syakh Afifuddin menikah dengan Ratu Kunah Bin Tb. Kafi 
Berputra 4 masing masing :
1. KH. Tb. Abdurrahman
Berputra :
1.KH. Tb. Asnawi Caringin Waliullah
2. Nyai Hajjah Ratu Salamah
Berputra :
1. Rt. Hj. Saidah
2. Rt. Ny. Pangulu
3. Rt. Ny. Enong
4. KH. Tb. Rusjdi
5. KH. Rasyadi
6. Rt. Iyot
7. Rt. Eneng
8.Rt. Hj. Enong3. Rt. Saminah
Berputra :
1. Rt. Aisyah
2. Rt. Asnaiyah
3. Rt. AslamiahKh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi
4. Tb. Sujai
5.Tb. A. Salmani4. Ratu sarimun
Berputra :
1. Rt. Toyyiabah
2. Tb. Kosim
3.Rt. AraKH. Tb. Rusjdi menikah dengan Hj. E. Rugayah Bin

1. KH. A. Ma’ani Rusjdi
2.H. Moch. Bisri
3.Hj. Si Roudloh
4.Hj. Si Hulayyah
5.Hj. Si Hulaelah
6.H.tb. Ahmad FuadDemikian Silsilah Keturunan Kh. Tb. A. Ma’ani Rusjdi dari Rasullalah SAW semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: