Empat Hal Wajib Orang Yang Hidup Terhadap Jenazah - almuawanah

Empat Hal Wajib Orang Yang Hidup Terhadap Jenazah

Jenazah- Kematian memang suatu yang pasti terjadi karena setiap yang bernyawa pasti akan mati, tiada yang kekal kecuali Allah Swt.

Tahukah kamu, ada empat hal yang kewajiban orang yang masih hidup terhadap jenazah (orang yang sudah mati) berikut penjelasanya yang terdapat dalam kitab fiqih Safinatunnajah karangan Syaikh Salim Bin Sumair Al-Hadrami

(فصل)الذي يلزم للميت أربع خصال : غسلة وتكفينة والصالة علية ودفنه
FASLUN. AL-LADZI YALZAMU LIL-MAYYITI ARBA’U KHISHALIN. GHOSLUHU, WA TAKFINUHU, WA AS-SHOLATU ‘ALAIHI WA DAFNIHI

Kewajiban pada jenazah. Pertama: Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal dunia ada empat perkara, yaitu:
Memandikan.
Mengkafani.
Menshalatkan (sholat jenazah).
Memakamkan .

Kewajiban bagi orang yang hidup atas mayit ada empat

1. Memandikannya

Atau gantinya mandi, seperti tayammum jika mayat tidak dapat dimandukan dengan air, semisal mayat yang gosong terbakar api dengan sekiranya jika dimandikan maka akan rapuh dan hancur. Kecuali orang yang telah mati syahid. Sebab orang yang mati syahid haram dimandikan dan wajib dishalati.

2. Mengkafaninya

Setelah selesai memandikannya atau setelah men-tayamumi-nya.

3. Menshalati 

Setelah dimandikan dan dikafani secara sempurna.

4.  Menguburkannya

Bagi mayat yang mati syahid disunnahkan dikuburkan berikut pakean-pakeannya yang menempel di badan. Sedangkan mayat orang kafir—baik dzimmi (kafir yang berdamai dengan umat Islam) atau harby (kafir yang memerangi umat Islam)—tidak wajib dimandikan, tapi boleh dimadikan secara mutlak. Diharamkan untuk dishalati.

Cara memandikan jenazah

فصل)أقل الغسل : تعميم بدنه بالماء. وأكمله أن يغسل سوأتيه وأن يزيل القذر من أنفه وأن .يوضئه وأن يدلك بدنه بالسدر وأن يصب الماء عليه ثالثا
FASLUN. AQALLUL-GHUSLI TA’MIMU BADANIHI BIL-MA’I, WA AKMALUHU AN YAGHSILA SAU’ATAYHI, WA AN YAGHSILA AL-QADZRA MIN ANFIHI, WA ANYUDHIUHU, WA AN YUDLIKA BADANAHU BIL-SADRI, WA AN YUSHIBA AL-MA’A ‘ALAIHI TSALATSAN.

Cara memandikan seorang muslim yang meninggal dunia:
Minimal (paling sedikit): membasahi seluruh badannya dengan air dan bisa disempurnakan dengan membasuh qubul dan duburnya, membersihkan hidungnya dari kotoran, mewudhukannya, memandikannya sambil diurut/digosok dengan air daun sidr dan menyiramnya tiga (3) kali.

Paling minimal memandikan mayat adalah dengan mengguyurkan air dengan secara merata pada sekujur tubuh mayit.

Akan tetapi jika targetnya adalah memandikan mayat yang baik adalah dengan sekiranya dapat membersihkannya. Jika satu kali basuhan atau siraman belum juga dapat membersihkannya, maka harus disusul dengan siraman kedua, dan siraman berikutnya dan seterusnya.

Memandikan mayat yang paling sempurna adalah dengan cara membasuh kedua alat kelamin mayit, menghilangkan kotoran yang ada di dalam hidung mayat, mewudhulinya, menggosok sekujur tubuhnya dengan daun widara atau dengan sabun, membasuh dengan air tiga kali basuhan.

Cara mengkafani jenazah

(فصل) أقل الكفن : ثوب يعمه.، وأكمله للرجال ثالث لفائف ، وللمرأة قميص وخمار وإزار . ولفافتان
FASLUN. AQOLLUL-KAFANI TSAUBUN YU’UMMUHU, WA AKMALUHU LIR-ROJULI TSALATSU LAFAIFA, WA LIL-MAR’ATI QOMISHUN WA KHIMARUN WA IZARUN WA LAFAFATANI.

Cara mengkafani: Minimal: dengan sehelai kain yang menutupi seluruh badan. Adapun cara yang sempurna bagi laki-laki: menutup seluruh badannya dengan tiga helai kain, sedangkan untuk wanita yaitu dengan baju, khimar (penutup kepala), sarung dan 2 helai kain.

Batasan mengkafani mayit. Batas minimal mengkafani mayit adalah baju atau pakean yang dapat menutupi sekujur tubuh mayit.

Artinya baju yang dapat menutupi sekujur tubuh kecuali kepalanya mayit. Batas maksimal dan yang paling sempurna kafan bagi mayat laki-laki adalah tiga lapis

Yang dapat menutup sekujur tubuhnya. Sementara kafan yang paling sempurna bagi mayat perempuan adalah baju gamis, baju kurung,
jarik (nyamping atau izar) dan dua lapis.

Menshahalatkan jenazah

(فصل) أركان صالة الجنازة سبعة :األول النية ،الثاني أربع تكبيرات ، الثالث القيام على القادر ، الرابع قراءة الفاتحة ،الخامس الصالة على النبي صلى الله علية وسلم بعد الثانية،السادس الدعاء للميت بعد الثالثة ،السابع السالم
FASLUN. ARKANU SHALATIL-JANAZATI SAB’ATHUN. AL-AWWALU AN-NIYATU. ATSANI ARBA’U TAKBIRATIN. AT-TSALITSU AL-QIYAMU ‘ALAL-QODHIR. AR-ROBI’U QIRO’ATUL-FATIHAH. AL-KHOMISU AS-SHOLATU ‘ALAN-NABIYYI BA’DA AT-TSANIYYAH. AS-SADISU AD-DU’AU LIL-MAYYITI BA’DA AT-TSALITSAH. AS-SABI’U AS-SALAMU.

Rukun shalat jenazah ada tujuh (7), yaitu:
1. Niat.
2. Empat kali takbir.
3. Berdiri bagi orang yang mampu.
4. Membaca Surat Al-Fatihah.
5. Membaca shalawat atas Nabi SAW sesudah takbir yang kedua.
6. Do’a untuk si mayat sesudah takbir yang ketiga.
7. Salam.

Menguburkan jenazah

jenazah
jenazah

(فصل)أقل الدفن : حفرة تكتم رائحته وتحرسه من السباع .وأكمله قامة وبسطة، ويوضع خده على التراب ويجب توجيھه إلى القبلة

FASLUN. AQOLLU AD-DAFNI HAFROTUN TAKTUMU ROIHATUHU WA TAHRISUHU MIN AS-SIBA’I. WA AKMALUHU QOMATUN WA BASTHATUN, WA YUDHA’U KHODDAHU ‘ALA AT-TUROB, WA YAJIBU TAUJIHUHU ILA AL-QIBLAT.

Sekurang-kurang menanam (mengubur) mayat adalah dalam lubang yang menutup bau mayat dan menjaganya dari binatang buas. Yang lebih sempurna adalah setinggi orang dan luasnya, serta diletakkan pipinya di atas tanah. Dan wajib menghadapkannya ke arah qiblat.

Penguburan Janazah.
Batas minimal liang lahat bagi kuburan janazah adalah lubang yang dapat menyimpan dan meredam bau busuk mayat dan menjaganya dari hewan atau binatang buas.

Artinya liang lahat yang dapat menyimpan bau busuk mayat dengan sekiranya bau busuknya tidak sampai keluar dari lubang dan terbawa oleh angin menyebar ke seluruh sekitar lingkungannya yang dapat menyebabkan polusi udara.

Dan lubang tersebut juga dapat menyimpannya sekiranya tidak dapat dibongkar dan dibuka oleh binatang buas yang akan memangsannya.

Sedangkan batas maksimal liang lahat bagi jenazah adalah kedalamannya sedalam dan sepanjang orang yang sedang berdiri sambil mengangkatkan tangannya, pipi janazah sebelah kanan diletakkan di atas tanah, dan wajib menghadapkan janazah ke arah kiblat.

Pembongkaran makam jenazah

(فصل) ينبش الميت ألربع خصال : للغسل إذا لم يتغير ولتوجيھه إلى القبلة وللمال إذا دفن . معه ، والمرأة إذا دفن جنينھا وأمكنت حياته

FASLUN. YUNBASYU AL-MAYYITU LI-ARBA’I KHISHOLIN. LIL-GHUSLI IDZA LAM YATAGHOYYAR. WA LI TAUJIHIHI ILA AL-QIBLATI. WA LI AL-MALI IDZA DUFINA MA’AHU. WA LI AL-MAR’ATI IDA DUFINA JANINUHA MA’AHA WA AMKANAT HAYATUHU.

Pembongkaran (makam) mayyit diperbolehkan jika ada sebab yang 4 :
Untuk dimandikan jika jasadnya belum berubah
Untuk dihadapkan kearah kiblat
Untuk mengambil harta yang tertanam bersama mayyit
Untuk menyelamatkan kandungan yang dikubur bersama mayyit bila ada kemungkinan janin masih hidup

Kuburan mayit boleh dibuka atau dibongkar dengan adanya empat (4) sebab.

Pertama, karena hendak memandikannya jika mayat belum berubah, atau belum hancur dan membusuk. Artinya ketika mayat—mungkin karena lupa—belum dimandikan kemudian dikuburkan dengan begitu saja, maka kuburannya boleh dibuka kembali bertujuan hendak memandikannya.

Kedua, karena hendak menghadapkan mayat ke arah kiblat. Jika mayat dalam posisi berpaling dari arah kiblat atau telungkup, maka kuburannya boleh dibuka dan posisi mayat dibenahi agar menghadap kiblat.

Ketiga, mengambil harta atau materi yang terkubur bersama mayat.

Keempat, bagi mayat perempuan yang dikuburkan beserta janin yang dikandungnya di dalam perut dengan sekiranya dimungkinkan atau ada harapan janinnya bisa hidup. Artinya demi menyelamatkan janin yang ada di dalam perut mayit, yang masih ada harapan hidup, maka boleh dibongkar kembali kuburannya tersebut.

Demikian penjelasan tentang kewajiban orang yang masih hidup terhadap jenazah yang dijelaskan dalam kitab safinatunnajah karang syaikh salim bin sumair al-hadrami semoga bermanfaat.

Baca Juga : Hal Yang Menjadi Udzur Shalat

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: