Asal Usul Tradisi 10 Muharram Membuat Bubur Syuro

10 Muharram- Bubur Asyura atau yang lebih dikenal Bubur Syuro Mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita bahkan mungkin juga ada yang baru mendengar.

Di sebagian wilayah indonesia Khususnya di Pulau jawa ada tradisi membuat bubur syuro, bertepatan dengan tanggal 10 Muharram bulan Hijriyah.

Bubur ini bukan sekedar bubur pada umum nya, yang kita tahu ada beberapa jenis bubur seperti bubur ayam, bubur kacang ijo dan sebagainya.

Pada dasarnya bubur Syuro juga bahan utamanya adalah beras seperti bubur ayam, tetapi ada tambahan tambahan lain nya seperti kacang kacangan.

bubur syuro

Dan terdapat makna dibalik tradisi yang sangat menarik ini yang sudah dilakukan oleh orang-orang terdahulu.

Penasaran?? yuk kita simak berikut ini.

Cerita Bubur Syuro

Ketika pertamakali berlabuh dan turun dari kapal, Nabi Nuh AS. dan para pengikutnya merasakan kelaparan sementara perbekalan yang mereka miliki telah habis.

Akhirnya Nabi Nuh AS. memerintahkan para pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang masih ada.

Hasilnya pun terkumpul, ada yang membawa satu genggam biji gandum, biji adas, biji kacang, kacang putih, dan biji-bijian yang lain.

Sehingga terkumpulah jujuh macam biji-bijian menurut (pendapat lain terkumpul 40 macam biji-bijian).biji bijian

Nabi Nuh AS. pun membacakan basmalah-pada biji-bijian yang sudah terkumpul tersebut lantas beliau memasaknya.

Setelah masakan matang, mereka menyantap makanan tersebut bersama-sama. Semuanya merasakan kenyang, atas keberkahan Nabi Nuh AS.

Sebagaiman firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an :

…….قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ

Arab-Latin: Qīla yā nụḥuhbiṭ bisalāmim minnā wa barakātin ‘alaika wa ‘alā umamim mim mam ma’ak,

Terjemah Arti: Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu (QS. Hud : 48)

Peristiwa tersebut terjadi pada hari ‘Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. dalam catatan sejarah disebutkan bahwa peristiwa tersebut merupakan awal mula makanan dimasak di bumi.

Setelah terjadi banjir besar yang menggenangi bumi selama 40 hari.

Dari peristiwa tersebut, orang-orang menjadikanya sebagai tradisi yang mereka laksanakan setiap hari ‘Asyura.

membuat bubur syuro

Jadi dinamakan bubur syuro karena hari itu bertepatan dengan hari ‘Asyura setiap 10 Muharram,

Pahala yang besar pun dijanjikan bagi mereka yang mau melakukan hal tersebut, terlebih lagi ketika mau mensedekahkan kepada golongan fakir miskin.

Kita yang sekarang hidup di zaman Milenial jangan harus mengetahui tentang sejarah dan jangan meninggalkan radisi tradisi warisan dari para Nabi.

Baca Juga: Filosofi kata santri

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: